Virus Itu Bernama Agus Magelangan

Asyuuuu...
Agus Magelangan ki memang asyu, kakeane. Jujur saja sebenarnya sudah sejak lama saya pengin kembali nulis di blog. Bukan berarti saya sebelumnya tidak memiliki blog. Saya punya. Swear...
Tapi entah apa namanya, saya sendiri sudah lupa. Beberapa teman yang aktif nge-blog sudah saya minta memasukkan dan men-searching nama saya yang mungkin saya gunakan saat nge-blog beberapa tahun lalu, namun tak jua ketemu.
Coba masukkan kata Wahid United, Gus Wahid, atau bahkan Gus Wahid United tak juga ada. Padahal hanya nama itu yang sering dan memang saya gunakan untuk ngeksis. Tak jua ketemua.
Pun ketika ditanya, blog di domain apa, saya tak bisa menjawab. Tapi swear, saya pernah punya blog dan pernah menulisnya.
Begitu pula ketika lima tahun terakhir saya banyak berteman dengan para blogger di Kota Semarang maupun di Jateng, saya sudah kepancing untuk menulis blog lagi. Tapi keinginan saya masih bisa dipatahkan oleh alasan bahwa mengapa saya harus menulis blog wong saya setiap hari juga ngetik berita? Kan sama saja, begitu hati kecil saya berbisik...
Oh ya, sebagai gambaran, sehari-hari aktivitas saya memang sebagai jurnalis. Mewartakan hal-hal yang patut diwartakan kepada khalayak.
Toh ternyata masih ada hal lain yang saya rasa kurang...tidak semua hal dalam kisah hidup saya bisa diwartawan dan patut dibaca pelanggan Koran Pagi Wawasan tempat saya bekerja. Dan blog adalah salah satu sarana menyampaikan kisah dan perjalanan waktu yang saya habiskan selama ini.
Pun saya sebenarnya juga sudah mengisahkan setiap jengkal perjalanan waktu ini melalui akun sosmed. Twitter, Path, Instagram da Fesbuk yang sudah mulai saya tinggalkan, masih dijumpai jejak-jejak perjalanan jenaka yang memang saya buat tidak mengharukan. Bagi saya, hidup terlalu indah untuk dibuat haru.
Dan ketika kemarin saya berjalan di sebuah pameran buku, saya menemukan Diplomat Kenangan karya Agus Mulyadi yang lebih saya kenal sebagai gus Mul atau Agus Magelangan. Kebersamaan singkat kami dalam sebuah acara ROB Jateng 2013, membuat kenangan itu terusik. Toh Agus adalah sosok yang ramah, unik serta bisa masuk TV.
Dan ketika saya membaca buku ketiganya tersebut, belum sampai seperempat buku saya selesaikan, naluri terusik. Dalam penerawangan jauh saya, Agus seolah memaksa dan meracuni saya, bahwa saya harus kembali nge-blog...HARUS.
Alhasil...buku Diplomat Kenangan saya tutup dan saya meraih laptop, menancapkan sumber daya ke colokan listrik dan menyisihkan game COC yang sebenarnya spell-nya sudah ready untuk dipakai war.
Agus Magelangan aka Agus Mulyadi memang bangsat. Selamanya saya akan dendam kepadanya dan saya pastikan dendam ini tak akan pernah padam.
Tunggu pembalasanku Gus...#akungeblogmergokowe

Komentar