Menelusur Indah Merbabu-Merapi di Dewi Sambi (Desa Wisata Samiran Boyolali)


Kegilaan gembira para blogger Deswita
*
TERINGAT di tahun 2016 lalu, saya memutuskan bergabung dengan tim sepak bola PWI Jateng, bersama belasan rekan wartan lain. Di bawah asuhan tangan dingin pelatih nasional Sartono Anwar, kami digembleng dua pekan sekali.
Sebelum game atau sparring dengan tim lain, kami diberi materi increasing. Kami diminta lari mengelilingi lapangan tiga kali.
Simpel memang. Tapi di jarak lapangan terpendek, harus sprint, sementara di panjang lapangan kami diwajibkan jogging, lalu persis di sudut lapangan mulai meningkatkan speed.
Di sesi increasing lainnya, lapangan dibagi menjadi seperempat, diberi cone dan kami wajib lari sesuai titik yang ditentukan dengan sesekali sprint, sekali lainnya cukup jogging namun tetap tidak boleh berhenti.
Pada pertemuan berikutnya dan setiap kali pemanasan, ada kala kami harus sprint 20 persen, meningkat 40 persen, lalu  60 persen. Cukuplah maksimal 60 persen demi menyesuaikan fisik dan stamina para wartawan yang rerata merokok dan suka begadang (sebuah hal yang pantang dilakukan atlet bola).
**
MENERIMA tawaran FK Deswita (Forum Komunikasi Desa Wisata) se-Jateng untuk ngetrip di sela pertemuan rutin 3 bulanan mereka, membawa konsekuensi kami berdelapan -para blogger- nginep di tempat yang dingin. Lokasi pertemuan di Samiran, Selo, Boyolali, berada di punggung selatan Gunung Merbabu, berhadapan langsung dengan Gunung Merapi.
Kira-kira berada di ketinggian 1.000 mdpl, begitu masuk wilayah yang dikenal sebagai Dewi Sambi (Desa Wisata Samiran-Boyolali), tulang serasa tertusuk. Dingin langsung menyergap, apalagi kami berombongan sampai saat petang tiba, kala dimana para monster kabut menyelimuti.
Puncak Merapi yang malu disaput kabut.

Belum lagi salah jalan yang kami ambil karena Nia yang sok tahu –maklum dia adalah navigator yang ternyata patut dipertanyakan kapabilitasnya haha-, membuat seolah perjalanan kami begitu mencekam. Jalan setapak yang kami tempuh, beradu punggung dengan tebing sementara di sisi kirinya adalah jurang yang tersapu kabut.
Namun ternyata, jalan melingkar inilah yang ternyata membawa kami trekking ke Bukit Gancik keesokan harinya. Dan ternyata di siang bolong, pemandangan luar biasa kami dapatkan. Berbeda 181 derajad dengan suasana petang sebelumnya.
Eitt...sebelum trekking, kami harus menginap dulu di salah satu homestay bertajuk Rhodeo. Menariknya, semua homestay di sini sudah memiliki nama dan seragam papan penunjuknya, lengkap dengan lampu penerang jalan yang juga senada.
Harganya murah, hanya Rp35 ribu per orang tanpa sarapan. Jika menghendaki sarapan, cukup menambah Rp10 ribu per orang, dengan fasilitas bed matras, selimut tebal, teh or kopi panas sesuai selera dan tentu saja sanyaum ramah khas warga desa. (Beruntung si ibu tempat saya menginap tidak memiliki anak gadis yang manis haha).
Tapi sayangnya, citra diri saya sebagai manusia yang malas mandi di tempat dingin, kembali teruji. ‘Air es’ yang ditaruh di dalam bak mandi (saya pikir, pemilik rumah memiliki kulkas raksasa yang memproduksi air es dalam jumlah banyak untuk kemudian ditampung di bak mandi, serupa dengan alat pemanas air hihi), jauh membuat keinginan saya untuk bersua dengan yang namanya air ini.
Kembali ke urusan trekking, seluruh rombongan dibawa menuju Bukit Gancik dengan mobil bak terbuka. Sengaja memang sepertinya karena seperti yang saya bilang di atas, wisawatan akan disuguhi pemandangan luar biasa indah dimana di depan adalah warna hijau segar pepohonan di Gunung Merbabu, sementara di belakang nampak biru pongah si Merapi. Ditunjang dengan warna langit yang masih biru segar, membuat kami tergila-gila untuk bersyukur atas karunia keindahan alam ini.
Pajero: Panas Njobo Njero

Nah di sinilah korelasi increasing dan trekking ke Gancik. Begitu turun dari Pajero yang membawa kami, jalur trek menanjak sudah menanti. Melintasi kebun sayur warga, kelok jalan menuju puncak, samar terlihat. Kerumunan peserta trip, lama kelamaan menipis seiring dengan keengganan untuk meniti jalan menuju puncak yang kabarnya mencapai 800 meter dengan elevasi 20-30 derajad.
Dengan pola increasing-nya Sartono Anwar, saya coba terapkan untuk mendaki jalan setapak ini. Rekan blogger yang lain jelas sudah tertinggal separuh jalan –saya tahu, mereka pura-pura memotret keindahan Merapi di pagi hari, namun sejujurnya mereka mengulur waktu untuk beristirahat haha-. Dan terbukti, finish di empat besar hingga Puncak Gancik, member saya waktu lebih untuk mencari angle terbaik mumpung puncak Merapi di kejauhan belum ditutup di monster kabut. Inilah untungnya jika jalan lebih cepat, bisa memiliki suasana berbeda yang tidak dimiliki pemotret lain (sebenarnya ini juga alasan saya saja karena pada faktanya, nafas saya juga masih tersengal, lalu duduk nglemprak di jalanan).
 Eh eh no no...tidak tidak tidakkk. La wong nafas saja belum ngumpul sempurna, sudah banyak peserta lain yang juga smapai di 'garis finish' ini. Apa kata dunia dengan segala increasing ini? Wooo...ternyata mereka naik Gocek, ojek khusus kawasan Gancik dengan tarif 10 ribu per trip baik naik atau turun, ya pantes mereka bisa menyusul saya. Ah sudah ah foto foto dulu aja..
Warga pencari rumput beralih profesi jadi Gocek jika ada wisatawan. Ini tanjakan terakhir lo gaes hossh hosshh

***
TURUN dari Gancik, masih sama dengan fasilitas mobil Pajero, kami disambut Pasar Tiban Koin Bathok. Sama dengan konsep Pasar Papringan (baca juga: http://guswahidunited.blogspot.co.id/2017/12/pasar-papringan-dan-power-of.html), di sini juga mulai diberdayakan warga sekitar.
Bu Suminem yang semula hanya petani dan pencari rumput untuk dua ekor sapinya, setiap akhir pekan menjelma sebagai penjual nasi pecel dan mie serta gorengan. Begitu pula Mbak Tum yang awalnya hanya membantu suaminya berjualan Ketan Santen di pasar, mulai ber-ekspansi membuka dasaran di Pasar Tiban.
Dawet santan penunda lapar

"Lumayan mas, bisa dapat uang tambahan Rp200 ribu jika ada tamu seperti ini. Daripada cuma nyari rumput buat sapi," tutur Suminem lugu.
Dan ya, mata uang dari bathok kelapa menjadi satu-satunya alat tukar yang berlaku di sini. Uang Rp2000 kita, dihargai 1 bathok yang dapat ditukar dengan soto, bakso, jadah bakar atau aneka rupa makanan tradisional lainnya.
Eh tapi..."Tum, iki lo yen pengin mangan mie, njupuke dewe (Tum, kalau mau makan mie, ambil saja sendiri sesukanya)," sergah mbah Suminem kepada Mbak Tum. Haha sepertinya, sistem barter masih berlaku pula di sini, tapi hanya khusus antar pedagang lo ya.


****

KEMBALI menaiki Pajero, kami dibawa ke destinasi berikutnya, Alam Sutera. Cukup penasaran memang mendengar namanya, dalam benak terpikir sebuah kawasan pemukiman modern kayak di ibukota haha.
Nyatanya, kami harus kembali melakukan soft trekking namun dengan suguhan pemandangan berbeda. Kali ini kami mendaki punggung Gunung Merapi dengan pemandangan terhampar di belakang adalah Gunung Merbabu. Kebalikannya dengan trekking ke Gancik di awal.
Di sini, kami dijamu sebuah jembatan bambu sepanjang kurang lebih 100 meter, sebuah spot foto yang dapat menambah konten instagram tentu saja. Kembali ke tujuan utama, jalur trekking sekitar 500 meter, dua buah tugu besar dari bambu dan kayu menyambut kami semua.



Sekilas bentuknya mirip dengan Menara Eiffel yang juga dapat dinaiki hingga ke puncak. Lagi-lagi auto fokus kamera harus bekerja membidik aktivitas gokil rekan-rekan yang sepertinya gila akan alam hijau tanpa polusi bahkan micin seperti ini.
Tapi satu hal, karena tersusun dari bambu dan kayu, pengunjung yang naik ke menara harus berhati-hati karena akibat dimakan usia serta cuaca, beberapa kayu telah lapuk. Selain itu karena berada di lereng gunung, angin yang menghembusnya juga cukup kencang, sehingga terasa sekali goyangan di atas menara.
Sedikit saran sih bagi teman-teman pengelola destinasi serupa, bahwa ada baiknya spot semacam ini terus diinovasi agar pengunjung mau kembali kedua hingga kelima kalinya. Pasalnya jika hanya satu tema, saya kurang yakin pengunjung mau kembali kali kedua. Selain itu juga perlu adanya perawatan terkait kondisi kayu/bambu penyusun kerangkanya demi keamanan bersama.

*****
JADI begitu sekiranya perjalanan famtrip berama rekan-rekan Deswita kali ini. Di luar itu semua, kami para blogger menjadi tertantang untuk mengawal FK Deswita sekaligus membantuk komunitas blogger yang suka ngetrip ke desa wisata. Mau ikut? Ganti baju dulu ya, jangan lupa mandi hahahah...

Anak papah sama mamah pada mlongo ya hehe

Baca juga ya:
- http://mechtadeera.com/2018/02/11/berkunjung-ke-dewi-sambi-1-gancik-hills-top/
- http://mechtadeera.com/2018/03/04/berkunjung-ke-dewi-sambi-3-menikmati-hijaunya-alam-sutra/
- http://jejakjelata.com/2018/02/rute-angkutan-umum-menuju-selo-boyolali/
- http://www.doyanjalanjajan.com/2018/02/jalan-jalan-ke-desa-wisata-samiran.html
- http://www.doyanjalanjajan.com/2018/03/ada-pasar-tiban-duit-batok-di-dewi-sambi.html
- http://wisata.satumenitnews.com/2018/02/pesona-samiran-1-gancik-hill-top.html
- http://www.hidayah-art.com/2018/02/menjemput-cinta-bersama-dewi-sambi.html

Komentar

  1. Selalu ada sisipan iklan MU di balik kisah air es di bak, hahahaa...

    BalasHapus
  2. MU itu wajib, agama kedua haha

    BalasHapus
  3. Aku nggak yakin waktu itu dirimu mandi, pasti cuma di grujug2 doang airnya di lantai kamar mandi :p

    BalasHapus
  4. la emang aku ga mandi. Selama belum menemukan tutorial mandi di tempat dingin di yutub, aku g bakal mandi di tempat dingin hihi

    BalasHapus
  5. Ini trip yg menantang namun mengasyikkan.. terima kasih mas Wahid utk tumpangan & foto2 kerennya!

    BalasHapus
  6. aiss...masak ya cuma fotonya, orangnya gak keren? wekwkekwe mekso

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Mau ihh ihh ikut atuh ngulang, maaaaaass

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangannnnnnn.....











      jangan ragu raguuuuuuu

      Hapus
  9. Duh, kredibilitasku sbg navigator kelas wahid langsung ambyar gara2 postingan ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaooo ngaku ngaku navigatornya Wahid? kewanen bocah iki...eh tapi wes teruji ding...teruji nyasarnya hahaha

      Hapus

Posting Komentar