Kemah Ceria DAS Garang bersama Mercy Corps: Menjaga Kemurnian Bumi Sampai Mati


*
GEMERICIK air dari sungai kecil yang mengalir, memecah kesunyian. Daun-daun saling bergesek satu sama lain, memunculkan aliran angin segar. Gemerisik burung dan binatang hutan lainnya, menyambut semua langkah kedatangan.
Ah...inilah surga kecil yang kita damba. Jauh dari keramaian kota, tak kenal ribet dengan semua urusan dunia. Berhenti langkah saya di sini.
Jalan bebatuan tak menyuruhkan langkah, meski runcing di kiri kanan. Tak ada lagi pencitraan khas kota yang menjemukan. Hanya ada aku dan kamu ... alam.
Menerima undangan Mercy Corps untuk bergabung di Kemah Ceria DAS Garang, memiliki konsekuensi kami harus tinggal di alam. Tawaran tidur di dalam tenda, langsung saya anggukkan. Padahal jelas-jelas, saya akan meninggalkan guling kesayangan yang sudah penuh dengan torehan abstrak pulau di semua sisinya.
Hutan Wisata Semirang yang saya kenal, bukanlah halangan, ia pasti bersahabat dengan saya karena saya tak pernah memusuhinya. Dan demi waktu yang berlalu, semua kemurnian hidup berawal dari sini.
Bayangkan saja, ada sungai yang mengalir jernih, bahkan bisa diminum langsung airnya. Jadi jangan sesekali mengotori sungai kecil ini dengan perilaku busuk kita, mengencinginya, membuang hajat atau bahkan menorehkan luka dengan membuang air sabun penuh bahan kimia ke aliran tubuhnya.
Suara jenggerek, kumbang pohon, menambah merdu harmoni angin yang menggesek dedaunan. Sejenak memejamkan mata, saya rasakan aliran darah saya mengalir bersih, bergerojok seperti air terjun kecil di sungai ini. Tak sabar saya menulisnya...
Wajar memang jika teman-teman Mercy Corps memilih lokasi ini. Desa Gogik dengan air terjun Semirangnya, adalah salah satu sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Garang yang mengalir hingga ke Laut Jawa. Total ada puluhan desa/kelurahan yang dialirinya, memanjang dari lereng Gunung Ungaran hingga ke pesisir Semarang. Bahkan jika dihitung pakai matematika (ilmu yang sangat saya hindari), kawasan DAS ini mencapai 74 kali besaran lapangan sepak bola lo.
Jadi kalau di hulunya sudah kotor, warga di pesisir Semarang, tentu akan merasakan jauh lebih kotor plus bonus banjir. Dan memang air jernih tak pernah saya temui di kota tempat saya mengabdi. Hanya sisa kemarahan alam yang terkoyak memunculkan darah pekat berwarna coklat.

Airnya jernih gaes, jadi tergoda untuk keceh kan

Karenanya, rekan-rekan Mercy mencoba mencari titik terang, mengajak keterlibatan warga di sekitar DAS Garang, membangun kepedulian. Tidak sekedar mengingatkan untuk menjaga kebersihan dan kemurnian sungai-sungai yang bersumber dari Gunung Ungaran, namun juga menyanyangi mereka dengan segenap jiwa (mirip sayangku ke kamu).
Karena itu pula, sudah selayaknya seluruh peserta Kemah Ceria memiliki kewajiban menjaga bumi yang dipijaknya dari sampah dan limbah. Langkah kecil yang kami mulai, diharapkan membesar lalu menular ke banyak orang. Mengumpulkan sampah yang kami sisakan dari perjalanan, membuangnya ke tempat sampah. Setidaknya itu dulu langkah kecil kami...
Membangun kesadaran menjaga lingkungan seperti yang disampaikan Wardah (project manajer Mercy Corps untuk even Kemah Ceria), bukan persoalan mudah. Butuh perubahan wawasan akan apa yang anak cucu kita kelak akan dapatkan. Sebuah warisan yang bukan sekedar harta namun sebuah tatanan akan kehidupan yang tetap indah di masa depan.

**
KEDATANGAN kami ke Semirang disambut absensi berbuah tumbler cantik, ikat kepala merah dan juga matras alas tidur. Yang menarik, tumbler akan menemani  kami selama dua hari satu malam di sini.
Usai menempatkan tas dan perlengkapan lain di tenda, kami bergegas turun lagi. Sungai kecil yang berisik ini yang menjadi tujuan. Airnya yang jernih memancing keinginan untuk segera menyeruputnya, memasukkan ke tumbler lalu menggelegaknya menerobos kerongkongan, menghapus dahaga...ahhh segaarrrr.

Video by Ika Puspita yang berperan jadi lontong merah
Dan ketika panggung dibuka, kami sudah siap. Sambutan sang tuan rumah dan panitia penyelenggara menjadi menu wajib. Wejangan Pak Adib (Kadus Gogik) untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar norma, tidak mengotori sungai yang juga menghidupi banyak orang di bawah sana, menjadi pegangan.
Bukan saja pegangan hanya untuk dua hari ini, namun juga untuk masa yang akan mendatang. Tidak hanya pegangan saat di sini, namun juga saat berada di tempat lain, karena toh sudah menjadi kewajiban kita untuk ikut menjaga alam.
Makan malam menjadi saat yang paling guyub. Sajian nasi kembulan yang dipajang memanjang beralas daun pisang dengan lauk gereh, telur dan ayam, ditimpa daun pepaya yang dibuat kluban, sungguh nikmat dan guyub. Kami semua makan dari satu alas yang sama, mirip suasana ketika saya masih di pesantren hahaha.
Lalu dimainkanlah sebuah sandiwara berbalut wejangan, Goro-Goro Roro. Drama sederhana yang dimainkan ibu-ibu PKK Gogik, namun sarat dengan petuah dan pesan.
Begitu pula penampilan Wayang Tenda 'Nandhang Wuyung' yang dimotori rekan saya, Umam. Cerita yang disajikan sangat mudah dicerna, mengajak kita semua untuk tidak silau dengan gemerlap dunia dan menjualnya untuk kemewahan sesaat. Ibu pertiwi harus disayangi, sejak saat ini pula. (Duh aku mulai mendua, sayang kamu dan sayang ibu pertiwi nih hihi)


Sego kembulan...yukkk gassss

Wayang Tenda 'Nandang Wuyung'

Dan ketika malam tiba, bukanlah saat yang saya nantikan. Ketakutan akan ular, membuat saya tdak bisa memejam. Kelupaan membawa garam, membuat hati tak tenang. Setiap gemerisik rumput dan dedaunan, saya bayangkan itu adalah ular yang datang di balik semak bukan untuk menggigit tapi untuk memeluk saya...dan saya ketakutan hingga Subuh tiba. (tapi tetap saja saya tidak solat Subuh hufft)
Dan outbond empat jam, semakin menguatkan kekompakan kami. Team building yang mereka siapkan, adalah materi berharga mengarungi kebersamaan dan sinergi kami di masa mendatang. Bahwa tidak ada anak buah yang bodoh jika pemimpinnya tidak pintar, juga tak ada pemimpin yang sempurna jika tidak didukung sinergi dari seluruh anggota kelompoknya.
Sesi permainan water bridge, ball bridge, si jagur yang memecah balon hingga membuat tower serta bola hip hop bukan saja membuat kami  riang. Sinergi dan kekompakan antar anggota tim, menjadi modal berharga.
Ah sayangnya, tim Anak Panah yang saya pimpin tidak dimenangkan oleh panitia. Saya sendiri sadar diri karena memang tim kami terlalu sering memenangkan kegiatan out bond semacam ini di tingkat RT dan RW, jadi biar saja ada pemerataan juara...mesakke teman-teman yang tak pernah menang.


Namanya juga Kemah Ceria...ya harus ngakak dong. Photo by Anjie
Ini bukan lagi galau atau sedih, cuma lagi nunggu mie ayam lewat
***
Kemah Ceria merupakan bagian dari Program GRP-TRANSFORM program pengelolaan risiko banjir lintas wilayah di Kota Semarang dan Kabupaten Semarang hasil kerja sama Mercy Corp Indonesia, Atma Connect, ESG dan Karang Taruna Desa Gogik.


Aplikasi AtmaGO adalah salah satu aplikasi yang sangat unik dan menarik, sebab dibuat dengan semangat dan ide cemerlang dari warga demi mewujudkan lingkungan lebih baik dari sebelumnya. Aplikasi ini juga berfungsi sebagai alat untuk mengingatkan pengguna agar menjaga lingkungan, dengan aplikasi ini maka cucu kita dapat menikmati keindahan alam yang kita lindungi.
Di dalam Aplikasi AtmaGo ini adalah aplikasi berbasis web dalam android, AtmaGO memiliki fungsi untuk memberikan informasi kepada penduduk terutama kepada penduduk yang bertempat tinggal di bantaran sungai Garang. Warga dapat mendapatkan informasi tentang potensi banjir dengan menggunakan aplikasi ini tanpa  biaya lo.
Salah satu kelebihan dari aplikasi AtmaGO sendiri yaitu aplikasi ini dapat dimanfaatkan untuk melaporkan masalah, memberikan berbagai solusi, informasi tentang lingkungan bahkan mencari lowongan pekerjaan .




****
Tips Kecil Membangun Kesadaran Mengurangi Sampah dari Muka Dunia:
- bawa kantong belanja sendiri dari rumah
- berani menolak ketika kasir memberikan kantong plastik untuk mengemas barang belanjaan selama kita bisa membawanya (masukin di tas atau saku aja)
- ajak orang rumah (anak, istri, pembantu) untuk ikut peduli sampah. Tapi kasih contoh juga dong, jangan cuma Jarkoni (iso ngajari, ra iso nglakoni)
- pada tingkat yang lebih advance, pilah sampah organik dan plastik (saya sendiri belum bisa lo. ngaku ini)
-  pada tingkat yang lebih di atasnya advance, manfaatkan sampah plastik jadi barang yang lebih berguna (yang sebelumnya saja saya belum bisa, apalagi yang ini, jadi jangan bilang saya Jarkoni yess)


Baca juga untuk blog walking yess:
- http://www.brama-sole.com/2018/03/kemah-ceria-das-garang-bersama-mercy.html
- http://diemplok.com/kemah-ceria-das-garang-bersama-mercy-corps/
- http://www.irasulistiana.com/2018/03/ngecamp-cerita-bersama-mercy-corp-yuk.html
- http://berita.satumenitnews.com/2018/03/kemah-ceria-das-garang-bareng-mercy.html
- http://www.pelancong.id/2018/03/melancong-berkemah-dan-peduli.html
- http://www.doyanjalanjajan.com/2018/03/kemah-ceria-bersama-mercy-corps-Indonesia.html
- http://www.olaole22.com/2018/03/serunya-kemah-ceria-sambil-mencintai-alam.html?m=1

Komentar

  1. Siip... Alamnya sangat keren..(iyaa..yg nulis jg lumayan keren deeh..-timbang protes hehe) dan pelajarannya pun sangat berharga ya.. Salut untuk penggagas dan semua peserta acara ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. salut sama yang komen, sangat menghargai manusia setengah ganteng seperti ku

      Hapus
  2. Besok2 aku jadi lontong ijo wae lah. By the way, aku kalo belanja bawa kantong belanja dewe loh, jadi ngurangi kantong plastik

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulilah...berarti sudah mendarah daging ya soal sampah plastik dan lontong abang hahaha. suk neh bawa makanan yg lbh bervariatif ya yu hihi

      Hapus
  3. Milah sampah itu yangbelum bisa konsisten. Karena rumah yang sekarang gak ada tempat untuk mengolah sampah organik jadi pupuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku jg lg usaha nyari keranjang yg bisa jadiin kompos itu mbak...ntar klo dapet, kita bagi dua ya haha

      Hapus
  4. Padahal subuh itu aku ngerasa ada yg teriak, subuh2 dari luar tenda lhoo. Kok yaa, yg bangunin malah tidur lagi hahahah.

    Kemah kemarin membuka mata banget ttg bagaimana kondisi sungai yg mengalir di kota2 besar, dan bgmn kita hrs bisa menjaga sungai2 yg ada di hutan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha...klo aku cuma gemerisik sisik ular berkelok bertemu bibir rerumputan yang dapat membangunkanku..huhu


      hutan? mana ada hutan di sini hihi...iya iya, hutan di gunung-gunung ya. Ayo kita lestarikan bareng

      Hapus
  5. mupeng akuuuuuu ga iso meluuu

    aku sih mau tumblersnya, mas... cuma takut karo segooo huaaaa

    BalasHapus
  6. Itu makan malemnya asoy banget!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu kok gak jadi nyusul to rennn...

      Iyo, mengingatkanku pas jaman di pesantren biyen hahaha

      Hapus

Posting Komentar