Sepeda dan Selembar Payung Tuan Nyonya


Duo Barce dan Celsi
BAGI sebagian kita, hujan adalah penghalang. Setiap turunnya yang selalu keroyokan, selalu dibarengi dengan lenguhan, bahkan tak jarang pisuhan.
Hujan seolah mantan yang menghantui aktivitas berkegiatan. Gerak langkah dan mimpi besar kita terhalang olehnya. Hujan menjadi tak berkawan meski ada payung atau jas hujan.

Tapi bagi kedua duo ini (namanya dua ya pasti duo), sebut saja Barce dan Celsi sesuai baju yang mereka kenakan saat itu, (nama disamarkan karena mereka masih di bawah umur haha) hujan adalah sepeda. Semakin banyak dan deras hujan, jika perlu disertai sambaran petir di kejauhan, akan semakin mendekatkan asa akan mimpi mereka.

Memiliki sepeda. Itulah bayangan keduanya. Berbekal tiga payung lusuh namun tetap mampu melindungi siapapun yang berteduh di bawahnya, Barce dan Celsi mengayuh asa menjemput sepeda mereka.
Di pelataran parkir DP Mall, hujan menjadi saksi bagaimana gempuran air yang turun berbondong-bondong tak mampu menunda keinginan besar mereka. Setiap tetes yang tercurah dari langit, ibarat sekrup dan baut sepeda yang akan mereka rangkai menjadi satu kesatuan.

Payung om...tante, bisa buat mayungin hati juga lohh

"Sudah beberapa bulan sejak musim hujan turun, kami selalu di sini. Sepulang sekolah, kami langsung ke sini," kisah Barce yang sudah duduk di bangku SMP kelas 1 membuka percakapan.
Dan karenanya, hujan adalah satu hal yang selalu mereka harapkan. Semakin sering hujan, semakin banyak mur baut lalu jeruji hingga sadel dan rangka yang akan mereka rangkai dalam asa menuju sepeda.
Tak banyak memang yang mereka dapatkan. Berharap keikhlasan pengunjung mal yang enggan basah menuju parkir kendaraan, tak selalu uang lima ribu mereka dapatkan. Dua ribu pun cukup menghantar senyum mereka mengembang, basah di sela cucuran air dan keringat (iya kali keringat saat kehujanan yak hahaha. Lebai nih penulisnya).

"Emak cuma buruh cuci, tidak mungkin membelikan sepeda. Sementara teman-teman sudah punya sepeda bagus, bisa buat berangkat sekolah atau buat main. Saya cuma bisa minjem sepeda mereka sambil ngelu-elus dan membayangkan punya sepeda sendiri warna merah," imbuh Celsi pilu.

Iya memang, sesekali mereka tak hanya dapat recehan. Pernah suatu ketika, saat hujan benar-benar deras, dimana curah hujan yang tercatat di BMKG kala itu mencapai 60 mm/detik, Barce beruntung mendapatkan tips 50 ribu dari seorang pelanggan yang merasa terbantu.
Tapi toh tidak setiap hari mereka mendapatkan tips tambahan itu. Belum tentu juga seminggu, sebulan bahkan selama karier mereka menjadi ojek payung. 

Rela basah kuyup selama kau tetap kering wahai tuan dan nyonya
Ya namanya juga karier dadakan bin momentum ujan, tidak bisa setiap saat dijalani. Beda soal dengan kalian para blogger/vlogger atau simboker yang mungkin jadwalnya padat dengan undangan trip. Klo simboker mah cukup nodongin tangan ke suamik tiap bulan haha
Belum lagi klo mereka harus sakit karena ujan-ujanan...tentu akan semakin panjang jalan buat mengumpulkan uang. Semakin jauh pula sepeda dari angan.
Terlepas dari semua, di zaman mileneal saat semua orang sibuk dengan gadget dan aktivitas masing-masing, masih ada mereka-mereka yang rela 'menjual tubuh' menjadi tameng hujan agar kita tak basah. Masih ada yang mau menjadi martir, demi gadget kita agar tidak rusak.
So, masih sulit untuk bersyukur juga dengan kondisi kita saat ini? Waspadalah...waspadalah.....

Komentar