The Emejing d'Emmerick (part 2): Berburu Penanda Kehidupan di Telomoyo


Dimanapun selalu ada MU. Photo by Maureen

Bhumi gonjang-ganjing, langite peteng ndhedet. Namung lintang gumintang gemantung ono ing tlatah dhuwur. 
Mung jangkrik ngengkrik, ateges panondo, mbengi isih mbengi, durung katon isukmu. Suryo ora katon, rembulan kang nyopo tanpa suoro.
*
La bagaimana buminya tidak gonjang-ganjing gajek, la wong sepagi itu, sekira pukul 02.45, suara-suara berlarian di sekitar tenda kami. Bukan cuma. Mereka yang belarian ini sungguh memiliki berat badan yang di atas rerata. Dan sepagi buta itu, mereka sudah heboh berkemas, berlarian demi tak ingin ketinggilan sunrise. Ah mereka pikir mungkin sunrise ini semacam merek minyak goreng yang biasa dibeli ibu-ibu di pasar (eh memang mereka ibuk-ibuk ding, tapi no mention ya). Padahal ini adalah sunrise, munculnya sang penanda kehidupan manusia di kala siang.

Padahal, belum genap mata saya terkantuk di titik terendah selama dua jam terakhir. Angka WIB yang sempat saya lirik usai menyempatkan memainkan Jawhead di konsul ini menunjukkan 00.52. Berarti, saya tidur di bawah dua jam. Ckckckck sebuah rekor bangun terpagi dalam sejarah hidup saya...

Kami semua memang diminta bangun jam 03.00 lah untuk memburu sang matahari terbit di puncak Telomoyo. Jadi masih adalah sedikit waktu untuk menyecap kopi dan sebatang rokok demi memanasi mesin tubuh ini. Toh di bawah camping ground kami, ada sesuara gitar berkumandang. Dan ternyata Anji dan Deta sudah di sana. Ah klop ini para pengopi dan pengudut kumpul jadi satu mendengar kisah nabi-nabi yang dikumandangkan Erfix.

Belum sempurna suguhan kopi lampung dari Deta tandas di tenggorokan, kami sudah digiring ke lobi depan rumah meneer Emmerick. Jeep sudah menunggu. Dan benar, kami ketinggalan sesi berdoa. Sayapun merasa sangat kotor dan hina, tapi tetep cuek memilih naik Jeep yang bertudung agar tidak kedinginan bersama Athier dan Nia.

Di dalam, Mas Bimo sang hobies offroad menanti dengan senyum ramah meski saya yakin, ia juga belum gosok gigi seperti saya yang tergesa-gesa. Berprofesi sebagai kontraktor, bermain jip merupakan hobi yang sudah dikompromikan dengan istri dan anaknya sehingga kapanpun ia akan merasa ready melayani kami ber-offroad ria.

Eit...jangan dikira mereka ini driver lo. Dari 15 Jeep yang kami tunggangi bersama 30 blogger lainnya, semuanya adalah hobies. Jadi mereka bukan semata mencari nafkah dengan membawa wisatawan ke Telomoyo, namun semata karena tuntutan kesukaan.

"Dari hasil kontraktor saja sudah cukup mas. Ini murni hobi. Bahkan kalau dihitung secara rupiah, apa yang kami hasilkan dengan mengantar wisatawan ini kurang cucuk dengan bea perawatan. Tapi karena hobi, ya kami jalani. Harga paket per orang Rp350 ribu mas," terangnya seraya menyebut nama S4x4 Tiga Adventure Offroad sebagai komunitas yang menaungi.

Eh eh wait, ada wajah yang saya kenal. Adi Subarkah kalau tidak salah nama lengkapnya. Ia adalah sosok yang pertama kali mengajak saya berkenalan di masa SMP dulu di SMP 2 Salatiga...ia sendiri pernah bilang aktif ngejip di D'Emmerick, namun khusus untuk event ini saya abaikan karena sebulan sebelumnya dalam pertemuan kami, ia mengaku akan pindah ke Lombok. Eh tak tahunya takdir kembali mempertemukan kami di sini, di hari ulang tahunnya. Sayangnya, saya tidak kebagian satu mobil dengannya...

Penampakan Adi Barkah. Sehat dan sukses slalu lur
**

Sekira satu jam terombang-ambing di jalur aspal yang sudah rusak parah menuju puncak Telomoyo, sampai juga kami di titik pemberhentian yang hanya berupa jalur menanjak. Mata yang semula tertahan kantuk berat, Athier masih saja nyaman tidur di jok depan, mulai terbelalak. Bukan saja karena semburat jingga di ujung timur dunia, namun juga karena perjalanan kami yang ditemani tebing di sisi kiri.

Saya hanya membayangkan, jika drivernya adalah pemula, tentu ceritanya sangat berbeda. Belum lagi serangan kantuk, kondisi medan serta batu yang bisa membuat kepala terkantuk besi atau dashboard. Ah mas Bimo dan driver lain, hebat-hebat euy...

Di puncak Telomoyo, pemandangan indah sudah tersaji. Warna kuning keemasan terus beranjak menjadi kuning. Butuh kecepatan, ketepatan namun juga kesabaran untuk mencari angle yang paling tepat demi mendapatkan golden sunrise yang menjadi tujuan utama kami ke sini.

Tapi entahlah, di antara kekagetan bangun super pagi, rasa dingin yang meski tidak terlalu menyergap serta harus mengurus Athier yang masih lelap di dalam mobil, saya seolah bingung sendiri. Beberapa gambar yang saya ambil akan hadirnya Sang Surya menerjang kegelapan, belum terlalu optimal saya abadikan (eh ini juga modus untuk diajak lagi ke puncak lo, hati-hati).

Belantara pemancar dan detektor UFO di Telomoyo

Dan puncaknya, saya lupa Subuhan. Saking tadi kebanyakan ngobrol dan ngopi di tenda, saya hanya sempat menyaut tas kamera dan jaket, lupa membawa sarung. Ah maafkan hamba-Mu Ya Allah.
Telomoyo sendiri saya kenal sejak lama karena saya memang dari Salatiga. Di puncak gunung ini terdapat sebuah antena pemancar yang katanya milik TVRI, yang dapat dilihat dari kejauhan, bahkan dari desa saya, Kesongo. Tapi nyatanya begitu sampai di sana, sudah sangat banyak pemancar bertebaran. Ya mungkin juga milik para operator selular atau bahkan mungkin antena pemantau keberadaan UFO. Tak tahulah saya, dan tak kepingin mencari tahu.

Apalagi, mas Sigit sang PO (project officer yang juga manajer Marcomm D'Emmerick) kegiatan ini sudah memandu kamu untuk sedikit turun ke bawah. Ia sudah menyiapkan menu sarapan nikmat bersama kopi. Aih aih...ternyata mie godog sudah menanti. Uenaaak men, tenin. Entah karena laper, dingin atau memang sangat nikmat, tapi bener, ini uenaaak buanget.

Sunrise, mie godog dan kamu...maksude tanganmu nutupi nda wekwekwk

Menikmati mie godog dengan pemandangan matahari yang sedang menanjak, di sisi bawah nampak Rawa Pening. Di timur, samar-samar Lawu masih nampak pongah, sementara di sisi selatan ada Merbabu yang besar sungguh .

Lalu di ujung barat, duo Sindoro-Sumbing juga masih malu tertutup kabut persis di putingnya. Sementara Gunung Ungaran nampak sudah bersolek tertimpa sinar matahari. Bukit dan gunung-gunung kecil di bawah, sungguh menambah indah.

Gak pake baju sih, jadi malu hihi. Btw, jadiinget gambar gunung saat kita SD ya gaes

Di sisi lain, teman-teman blogger masih sibuk mengarahkan kameranya ke segala arah. Seolah tiada habis itu stok memori, batterai dan semangatnya. Saya sendiri sudah ndodok menyesap batang rokok sembari ngobrol dengan Adi Barkah.

"Ini mending, tidak terlalu dingin. Beberapa hari lalu dingin banget," ujarnya sembari menawari rokok kretek bernomor 234 premium yang tentunya sangat cocok dihisap di ketinggian seperti ini daripada rokok alus yang saya bawa.

Di perjalanan pulang, barulah kini ketahuan, banyak mata terbelalak karena di samping kanan kami terbentang jurang. Jalan dua tapak (bukan setapak karena ini tapaknya dua, maklum mobil), menuntun kami kembali turun. Di tengah perjalanan, rombongan menyempatkan diri berfoto di air terjun yang seolah menyambut kedatangan kami dengan airnya yang menggerojok karena hari-hari sebelumnya airnya tak sebanyak ini kata mas Sigit.

Athier di antara para mbokdhe di air terjun kecil yang kami singgahi

***

Memasuki pelataran D'Emmerick, petualangan kami belum berhenti. Seluruh rombongan masih mendapat bonus untuk ikut offroad gratis dari teman-teman S4x4 Tiga (baca: Saka Tiga). Saya sendiri bersama Nia dan tentu saja Athier yang tidak bisa ikut offroad, memilih kembali tenda. Selain ngantuk, saya juga harus memenuhi panggilan alam hehe

Sepanjang jalan berbatu menuju camping ground, jejeritan teman-teman terdengar jelas. Dan belakangan saya baru tahu, jalur untuk offroad sangat ekstrim dengan kemiringan mencapai 60 derajad. Belum lagi kubangan yang dilalui, semakin menambah debar raga namun menyenangkan jiwa.

Tapi saya tak menyesal kok tidak ikut etape terakhir ini. Daripada saya ikut lalu ada yang menembus keluar dari bagian belakang celana, mending saya ngalah lalu merem demi membayar kantuk yang semakin berat.

Tapi D'Emmerick dan segala kenangannya saya yakin tidak akan pernah hilang oleh pejam mata sekalipun...

Manajer Marcomm D'Emmerick yg (sok) ganteng dan ternyata adik kelasku huhu
Aerial sawah di bawah Telomoyo

Mak mak pemburu sunrise


Baca juga: http://guswahidunited.blogspot.co.id/2018/03/the-emejing-demmerick-part-1-belajar.html

Komentar

  1. Balasan
    1. Hae mak mak pemburu sunrise (minyak goyeng?)

      Hapus
    2. Hae mak mak pemburu sunrise (minyak goyeng?)

      Hapus
  2. Aku sepertinua sempat tidur di jeep saat perjalanan nanjak ke puncak Telomoyo, jadi ngga gitu ngeh klo di samping jeep itu ya jurang. Klo tau, pasti ngga bisa merem

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu turu dan kepentut pentut kak 😂😂

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Wkwkwkwkwk,,, bagian ending e bikin ngakakkkk,,,
    Tapi sampeyan kudu njajal off road e nang mburi emmerick mas,, juara!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sure akan dicoba, klo belum nyoba, gimana tahu rasane sate...*eh

      Hapus
  5. Untung dirimu ga ikut offroad, kalo ikut beneran terkentut-kentut dan terkencing-kencing di celana. Haha

    BalasHapus
  6. mungkin aku akan terkepup kepup

    BalasHapus
  7. Bener, Mas. Di gunung pagi-pagi makan mie rebus itu kenikmatan tiada tara

    BalasHapus
    Balasan
    1. apalagi klo ada tukang mie ayam lewat, pasti lebih sangat luar biasa...*kesel nyurung grobak e hahaha

      Hapus

Posting Komentar