Hari Ini, Dua Tahun Yang Lalu

#Hari ini dua tahun yang lalu.

MASIH ingat betul, hari itu Hari Sabtu. Selepas menjemput Athier sekolah TK, kami lanjut berbelanja stick PS baru untuk mengganti yang rusak. Sudah lama Pasha minta diganti stick baru agar aktivitasnya bermain PS tidak terganggu.

Memang semenjak sakit, ia lebih banyak berbaring dan menghabiskan waktu di kamar ber-AC. Jika tidak jenuh, ia bermain Play Station Lego Movie kesukaannya.
Begitu sampai di rumah, segera saya kabarkan kabar gembira kedatangan stick baru ini. Tapi tanggapannya sungguh berbeda. Pasha mengeluh badannya tidak enak, tanpa menyentuh sedikitpun batang ajaib yang tidak lagi dihubungkan dengan kabel untuk memainkannya tersebut.
Beranjak ke keluhan kaki yang kesemutan, bersama istri  kami saling memijit kakinya bergantian. Tapi firasat mbak bojo lebih tajam, ia merasa ada sesuatu yang beda, meski entah apa.
Keluhan gak enak badan yang tak jua reda, memaksaku menyiapkan mobil dan menggendong kakak. Seperti biasa, kami akan ke rumah sakit. Sebuah kebiasaan baru yang selama 2 tahun masa sakitnya, ini adalah standart procedur yang kami terapkan jika Pasha mengalami keluhan...apapun.
Duduk di jok depan, kami berdua di mobil masih berbincang layaknya ayah-anak. Saya sendiri masih santai tanpa berpikir apapun. Toh kami masih bisa berbincang, kecepatan mobilpun berjalan biasa, tanpa ngebut.
Di RS, saya memasukkannya ke bagian rawat jalan, bukan IGD. Saya pikir, kami masih bisa berkomunikasi, Pasha juga memberikan sinyal positif. Tapi setelah pemeriksaan, dokter jaga meminta saya menandatangani agar mbarep saya ini dioper ke IGD. Wah serius nih sepertinya, tapi demi kebaikannya, saya setuju.

#Setahun sebelum hari ini dua tahun yang lalu.
SEPAGI itu saya sudah bangun. Usai Subuhan bersama Pasha karena kebetulan mamahnya sedang flu sehingga memilih pindah kamar bersama Athier, kami sempat berbincang sebentar.

Entah berapa menit setelahnya, saya lihat ia kejang. Saya coba bangunin, namun tak kunjung terjaga. Berlari ke kamar tengah, istri mengatakan jika ini adalah kondisi kejang dan harus segera ditolong. Tak urung ia masukkan jari tangannya ke mulut Pasha agar tidak terjadi gigitan lidah yang dapat berakibat fatal.

Saya sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi. Mengingat beberapa menit sebelumnya, kami masih berjamaah dan berbincang sesaat. Sigap istri menyuruh saya menyiapkan mobil. Badan Pasha sudah menegang. Saya bingung, saya tidak mungkin nyetir dengan menggendongnya, sementara istri tidak mau melihat Pasha dalam kondisi seperti itu.
Sesigap itu, kami meminta sopir tetangga untuk mengantar ke rumah sakit. Saya sendiri menggendong Pasha di jok belakang. Dalam pelukan saya, anak mbarep ini tidak bergerak, kaku. Tidak ada reaksi apapun dari tepukan, teriakan dan tetes air mata yang tidak saya sadari. Swear, baru kali saya menetekan air mata secara otomatis.
Perjalanan ngebut 5 menit ke RS menjadi perjalanan yang sangat panjang. Perlahan saya lihat mulut si sulung bergerak merot ke kanan akibat serangan stroke. Antara kaget dan khawatir luar biasa, saya terus panggil namanya, menepuk pipinya dan berharap ia tidak pergi secepat ini.
Terlintas, ia akan tetap hidup bersama kami, meski dengan kondisi bibir seperti itu. Tapi takdir berkata lain. Gusti yang mengecat warna lombok dan suket teki memutuskan hal yang berbeda. Pasha selamat tak kurang suatu apa dari serangan pertamanya ini. Ia kembali tetap ganteng, meski 15 menit pagi itu, kami merasa sudah kehilangannya.
Maka, tak akan pernah ada hal yang lebih buruk yang menimpa diri saya, demi menyaksikan 15 menit terburuk dalam hidup saya ini. Tak ada, saya sudah melewatinya.

#Sabtu 21 Mei 2016

SABTU, tapi jujur sebenarnya saya lupa tanggalnya. Di tengah perawatan di IGD, kami kembali berkomunikasi. Pasha meminta teh anget. Di tengah hujan yang cukup deras, saya berlari ke warung di seberang rumah sakit.

Alhamdulilah, hampir separuh teh anget itu disedotnya. Sesekali, ia minta tetap dikipasi karena badannya gerah, namun tak ada peluh yang menetes. Di sela itu pula, dokter 'memaksa' saya kembali menandatangani pernyataan bahwa Pasha harus masuk ICU, namun saya menolak dan memilih ruang perawatan High Nursing Depandency (HND) dengan alasan agar kami selalu dapat di sebelahnya, berbincang dan mengambilkan semua kebutuhannya. Tentu saja dengan sepersetujuan mbak bojo (meski setelahnya, saya sangat menyesali keputusan bodoh ini).
Toh selama ini, Pasha dan kami sekeluarga sudah akrab dengan HND dan suster-susternya. Toh sudah dua tahun terakhir ini, ia sering bolak-balik masuk HND. Pernah pula siang hari ia keluar RS, namun malamnya, ia sudah kembali masuk dirawat di HND lagi...
Usai pemasangan infus yang sangat butuh perjuangan, Pasha seolah tak mau anteng. Ia terus bergerak. Tidak nyaman sepertinya. Mungkin karena infus dan selangnya, pikir saya.
Sedikit tegas, saya minta ia untuk tenang. Saya khawatir, jarum infusnya akan terlepas yang justru akan membuat proses penyembuhan semakin lama. Akan semakin panjang pula malam yang akan saya habiskan di rumah sakit menungguinya :(
Pun sepanjang perjalanan ke HND, ia tak bisa tenang. Terus bergerak. Gelisah. Saya masih tak sadar dengan apa yang akan terjadi.
Menyenangkan ketika di dalam HND, ia meminta kembali minum teh yang masih saya bawa. Ah, anak lanang saya memang jagoan. Seperti biasa, ia tak pernah mengeluh. Dua tahun perjuangan yang tak pernah sekalipun kau warnai dengan kata sambat. Sekarang tidurlah, mamahmu sudah siap menggantikan ayah.
"Pulanglah, nanti habis Magrib ke sini lagi. Makan dulu, mandi dan bersiap pakai baju tidur," perintah mbak bojo seperti biasa setiap kami aplusan menjaga Pasha di RS. Apalagi, kini sudah ada Gibran, anak ketiga kami yang masih berusia 3 minggu. Jadi ia tak bisa berlama-lama menunggu Pasha di RS.
Tanpa berpikir apapun, saya menuju warung penyet lengganan di dekat rumah yang hanya berjarak tak lebih 10 menit dari RS. Memesan paha bebek, belum jua duduk dengan sempurna, HP berdering. Di seberang, Erick (pengasuh Pasha) mengatakan si kakak sudah tidak bernafas.

Innalilahi...saya menjerit. Seluruh pengunjung warung mendongak menatap termasuk penjualnya. Sepersekian detik menenangkan diri, saya bilang pesanan saya batalkan sembari berlari. Saya pacu motor dengan pikiran tak karuan. Toh beberapa menit yang lalu, ia masih minta minum, masih saya pamiti untuk aplusan jaga dengan mamahnya.

Di luar ruang HND, mamahnya sudah menangis. Ia bahkan tidak sempat berbincang sedikitpun dengan anak mbarepnya. Kita pikir saat aplusan jaga, ia tertidur.
Dari balik jendela kecil, saya mengintip. Beberapa perawat nampak sibuk memasang beberapa alat yang sangat asing. Istri bercerita, sepeninggal kepergian saya, Pasha gagal nafas sehingga harus dibantu alat pernafasan. Saya bahkan belum solat Magrib...
Dan detik ini menuju jam berikutnya, adalah waktu doa terdalam. Dalam sesenggukan kami berpelukan. Kami masih sempat melihat Pasha digeser ke ruang ICU di seberang HND. Setelahnya, kami tak bisa lagi melongok ke dalam ruangan. Tiga jam yang sangat lama...menunggu semua berakhir.
Dan 21.40 menjadi penanda. Semua upaya sudah dilakukan, hanya Allah yang menggariskan. Kepada-Nya lah kita berasal, kepada-Nya pula kita kembali.
Innalilahi wainalihi rojiun Pasha al Farabi Bagus Damar, merdekalah dari fiokromositoma-mu, bahagialah di surga selayaknya taman surga yang kau gambar kala itu.

... dan hari ini, dua tahun yang lalu.


Komentar