Sop Buntut Pasar Jatingaleh: Warisan Kuliner Tiga Generasi

Sop Buntut Pasar Jatingaleh
Penampakan Sop Buntut Pasar Jatingaleh yang menggoda iman
SEBAGAI kota dengan usia cukup panjang, Semarang tentu memiliki banyak sejarah. Berbagai peninggalan jaman old, menjadi saksi sejarah panjang perjuangan Semarang menjadi semakin hebat. Salah satunya adalah peninggalan kuliner Sop Buntut di Pasar Jatingaleh yang sudah berjalan 3 generasi.
Ya,  sop buntut ini lahir di era tahun 1950-an. Generasi pertamanya adalah nenek dari yang mengelola warung sekarang ini. Secara turun temurun, warisan resep diturunkan dari generasi ke generasi.
Pak Abdurrahman, generasi kedua yang masih hidup dan kebetulan ditemui di warung mengaku kini warung dikelolanya anaknya. Sejak istrinya meninggal di tahun 2010, resep masakan diberikan kepada anak lelakinya sebagai generasi ketiga.
Mengaku menghabiskan rerata 10-12Kg buntut sapi muda setiap harinya, warungnya dibuka sejak pukul 07.00. Tapi jangan kesini di atas jam 15.00 lo gaes atau kamu hanya akan menemukan sisa-sisa tulang buntut sapinya saja hahaha
Dengan kuah bening, sup ini tidak menggunakan sayur atau potongan wortel dan kentang layaknya sop semarangan. Semua full berisi potongan buntut empuk beserta kuah.
Kuah bening inilah yang memiliki kekuatan besar dalam menstimulir lidah kita untuk kemudian mencecap kelezatan citarasanya lalu mengirim sinyal ke otak yang memberi komando ke mulut lalu bilang...lezzaaaattt. Seiring itu pula, garis komando otak memberi perintah ke ibu jari, untuk mengacungkannya ke atas. Tidak hanya satu, tapi langsung dua.

Sop Buntut Pasar Jatingaleh
Makan bareng bos teman (teman yang tukang mbayar, saya bagian makan)
Tapi kalu soal bumbunya apa saja, jangan ditanya ya gaes. Itu jelas rahasia si empunya. Tapi dari penelisikan saya, jelas kaldu sapi mendominasi lalu merica yang membuat hangat badan.
Cuma kalu masih kurang pedes, bisa minta tambahan gerusan lombok rawit yang warnanya harus hijau. Soalnya kalau pakai rawit setan, rasa nikmat dan segar kuahnya jadi berubah....yak e lo ya, soale selama ini, aku slalu pake rawit ijo owk hahaha
Nah menariknya, buntut muda ini direbus lebih dulu sampai dua atau tiga jam. Cara merebusnya tidak diperkenankan pakai kompor gas atau minyak, harus dengan bara arang. Pasalnya jika menggunakan selain arang, citarasa yang diperoleh akan berbeda. Ini tenin lo gaes (saking tenanannya).
Di saat merebus tulang buntut tadilah, Pak Abdurrahman dan anaknya akan menyiapkan bumbu. Jadi ketika buntutnya sudah empuk, barulah bumbu dan kaldu dimasak berbarengan lagi dengan buntutnya. Ya tapi ya buntutnya sudah dipotongi kecil-kecil lo, tidak disajikan memanjang utuh gitu wkewkekwek
Oh ya satu lagi resep nikmat sop buntut ini. Jadi saat buntut dipotongi dan dicuci, sekalian pula dibersihkan dari lemak yang menempel. Dengan demikian saat dimasak atau disajikan, tidak muncul lemak atau minyak tambahan di kuah yang terlihat 'pating klenthrek'.
Nah kalau tertarik mencoba (dan memang wajib dicoba), datang saja ke Pasar Jatingaleh di bawah underpass. Setelah parkir, cari lorong paling selatan. Ancer-ancer lorongnya dekat dengan WC umum di pojok yang ada gantungan sangkar burung serta penjual makanan burung :D.
Oh ya (lagi), harga per porsi sop buntut lengkap dengan nasi Rp30 ribu ya gaes, itu juga sudah lengkap dengan kenyang dan nikmatnya lo...
Sop Buntut Pasar Jatingaleh
Lorong paling selatan di Pasar Jatingaleh bukan Pasar Zimbabwe lo gaes

Sop Buntut Pasar Jatingaleh
Tampak depan

Sop Buntut Pasar Jatingaleh
Penjualnya malu hihi

Komentar