Elegi Cinta Candi Merak

Candi Merak di Karangnongko Klaten
Row matahari bikin makin cantik si Merak

NAMA Candi Merak memang tak setenar candi-candi lainnya. Selain karena bangunannya yang tidak terlalu besar, letaknya juga cukup terpencil.
Selain itu, sepertinya Candi Merak bukanlah pusat peradaban atau tempat peribadatan utama kala itu. Lepas dari itu semua, candi ini pantas dijadikan salah satu tujuan wisatamu terutama bagi yang suka mengunjungi kawasan heritage. Ya ibarat mengenang mantan dan masa lalu lah.
Letaknya berada di sebelah barat Kota Klaten. Berada persis di kaki Gunung Merapi, sepertinya candi ini juga pernah terkubur kedahsyahtan lentusan Merapi.
Terbukti, ia baru ditemukan sekitar tahun 1925 namun baru selesai dipugar tahun 2011 lalu. Diperkirakan dibangun di abad 8-10 Masehi, karena memang tidak ditemukan prasasti yang menandakan waktu pembuatan. Beda ma kita ya gaes yang dikit-dikit sekarang pakai tanggal. Tanggal jadian, tanggal putus deelel.
Nah menurut alkisah, di kawasan ini dulunya ada sebuah Pohon Joho yang sangat besar. Pohon itu sering dihinggapi Burung Merak, yang kini burungnya entah kemana jejaknya. Saat tumbang, akar Pohon Joho yang sangat besar itu tercerabut ke atas yang menyisakan ada tumpukan batuan dan arca candi.
Dan setelah dilakukan penggalian, barulah ditemukan adanya bangunan candi yang sudah tidak utuh. Candi ini diduga berlatar belakang Hindu seiring ditemukannya lingga yoni, arca Ganesa, arca Nandi dan arca Durga.
Candi Merak sendiri menghadap ke timur sementara tiga buah candi perwaranya menghadap ke barat. Memiliki ukuran bangunan panjang 8,86 m, lebar 13,5 m dan tinggi 12 m, dengan luas kompleks candi sekitar 2.000 m².
Candi pewara-nya belum dipugar gaes


Atap candi baru selesai dipugar 2011 loh



Oh ya, sekilas candi ini mirip dengan candi-candi yang dibangun di masa Mataram Kuno yang juga berlatar belakang Hindu. Lihat saja seperti Candi Plaosan, Candi Sewu dan Prambanan.
Menariknya, di sekitar Candi Merak juga ada situs lainnya. Saya bahkan menyempatkan berkunjung ke Candi Karangnongko yang sama sekali belum dipugar dan hanya menyisakan tumpukan bebatuan saja. Nama Candi Karangnongko sendiri saya yakin diambil dari daerah ditemukannya candi ini yakni Desa Karangnongko.
Letaknya gak jauh kok, cuma sekitar 1 Km dari Candi Merak. Kalau Candi Merak di sekitar pemukiman pendudukan dan asri dengan naungan pepohonan rimbun, Candi Karangnongko berada di tengah sawah dan di tepi sisi atas sungai kecil, panas nda hahaha.
Eh setelah baca-baca, ternyata juga masih ada Candi Kriyan dan Candi Bekelan di sekitar Candi Merak lo. Ah sayang, saya tak sempat berkunjung ke sana.
Tapi dari semua candi-candi tersebut, termasuk candi-candi lainnya, saya sedikit berkesimpulan. Ya boleh setuju boleh tidak lah, namanya juga kesimpulan pribadi owk.
Jadi begini, dalam pandangan saya, semua candi-candi tersebut (selain Candi Borobudur lo ya, karena ini candi Buddha), semuanya berada di sekitar Gunung Merapi. Mereka seolah memutari gunung ini. Mungkin juga memiliki filosofi bahwa puncak gunung adalah pusat ke-Illahi-an (wallahualam bisawab).
Tapi itu teori pribadi lo ya, toh saya sendiri juga bukan ahli soal candi, apalagi soal hati.



***
JADI, Lebaran tahun 2018 ini, saya sekeluarga seperti biasa ke Klaten, tempat mbah buyut. Karena saya bukan penganut paham berlebaran (klo silaturahmi saya OK), saya sengaja dolan sendirian. Dilalah kok nemu peta wisata Klaten dan penunjuk Candi Merak yang ternyata tidak terlalu jauh letaknya dari rumah mbah buyut.
Saya juga sengaja menggunakan GPS untuk mencari letak candi ini. Namun entah karena naik sepeda motor (sehingga suara mbak-mbak GPS-nya tak terdengar), atau memang karena saya bodo membaca peta, nyasar deh.
Alhasil, saya tetap harus menggunakan cara tradisional by jalinan silaturahmi yakni dengan bertanya kepada warga. Baru deh ketemu tuh jalannya...hahaha sepertinya cara ini masih jadi yang paling efektif untuk mencari alamat di desa deh.
Dan ketika ketemu Candi Merak, di sana sudah ada 3 muda mudi. Sepertinya mereka juga baru tahu tentang keberadaan candi ini. Sayangnya karena masih Lebaran, pagar pembatasnya tutup jadi gak bisa masuk ke pelataran.
Usai itu, gantian sepasang suami istri bergantian berfoto ria. Saya tahu mereka suami istri karena anaknya menunggu di sepeda motor, sepertinya tidak tertarik sama sekali dengan susunan batuan berwarna kusam itu.
Anak kecil menunggu di dekat Candi Merak
Males banget liat batu ya dek, mending nonton Avengers Infinity War meski diboongi produsernya hehe 

Lalu setelahnya, sepasang muda mudi yang sepertinya orang lokal sekitar Klaten juga. Jadi total saat itu Candi Merak dikunjungi 8 orang termasuk saya, beda jauh dengan Candi Borobudur atau Prambanan yang dikunjungi ribuan orang di kala Lebaran seperti ini.
Ya memang secara obyek, Candi Merak kurang menonjol. Pun secara peradaban, candi ini bukanlah pusat perhatian dan pusat peribadatan. Mungkin hanya sekedar tempat pemujaan sementara untuk peribadatan besar, mereka ke Prambanan (mungkin lo ya).
Yang jelas, candi ini kurang promosi. Padahal dengan keberadaan situs-situs candi lainnya di sekitar Candi Merak, dapat dijadikan paket wisata heritage menarik tentunya setelah disiapkan story telling serta pekat pendukung lainnya. Bisa juga dijadikan satu dengan paket wisata air ke Umbul Ponggok yang terkenal itu (paling terkenal di Klaten).
Jadi ya malah mirip elegi cinta gitu...klo gak dipromoin tapi kok bagus, klo dipromosiin kok ya masih kalah sama Plaosan dan Prambanan.
Aku terkunci, jadi cuma bisa melongok intap intip hihi


Komentar

  1. Baru tahu dengan keberadaan candi merak. Mungkin candi ini berfungsi seperti musala. Tempat beribadah dengan daya tampung yang lebih kecil.

    Sepertinya perlu dipromosikan lagi agar bisa dikenal khalayak banyak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soal promosi, kayane bisa jadi dilema juga bro. Daya tarik wisatanya agak kurang, jadi memang perlu dibuat paket khusus beserta candi-candi kecil lainnya.

      Hapus
  2. Aku juga baru tau ada Candi Merak. Sayang nggak bisa masuk ke dalem, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa klo pas gak lebaran...atinya digembok owk eh gerbangnya ding

      Hapus
  3. saya browsing via google maps, tempatnya memang 'tidak lazim',, tidak berkumpul seperti candi2 lainnya.. candi ini terlihat seperti 'pelindung' untuk kota klaten, terhadap gunung merapi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dgn pendapat jenengan...bgmn dgn pendapat saya ttg candi candi yang mengitari gunung merapi dan Merbabu?

      Hapus
  4. Candinya sendirian doang.. Kayaknya emang kayak mushola bagi muslim dehh.. Daya tampung kecil.. Atau temen2 candi lainnya belom ketemu. Lol

    Kalo di promosiin dan sekitarannya lebih instagramable kayaknya bakalan rame tuuhh



    BalasHapus
    Balasan
    1. Spt yg saya bilang kak, dilematis juga klo dipromosiin karena cukup kecil kecuali digabung dengan paket wisata lain di Klaten or Jogja sekalian.

      Hapus
  5. Balasan
    1. Karya seni di zaman-zaman itu yg tidak bisa diulang di zaman saat ini, layaknya Piramida dan Borobudur juga...

      Hapus
  6. kesannya itu memang kek dibiarkan gitu ya mas...??
    kl memang hanya ada candi itu saja mungkin daya tariknya kurang.

    dekat2 situ ada wisata lainnya tidak??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan dibiarkan juga sih, saat ini dikelola Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng. Di dekat situ ada candi candi kecil serupa gitu...makanya harus dibuat paket wisata, misal jadi satu sama Umbul Ponggok atau ke Prambanan, hari kedua kunjungan ke desa wisata di Klaten dan sebagainya

      Hapus
  7. Kapan-kapan mbok piknik rame2 kesini to kang, siapa tahu gemboknya udah dibuka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klo g lebaran, pasti dibuka. Lalu kita explore situs candi2 itu ya yu...akeh bgt owk situs e.

      Hapus
  8. Keren nih kalau dibikin paket wisata, nilai terbesarnya story telling..

    BalasHapus

Posting Komentar